Pada umumnya, kehamilan yang normal atau atterm berlangsung selama 38-41 minggu. Sedangkan masa kehamilan yang melebihi 42 minggu dikategorikan sebagai postterm atau lewat waktu. Maka saat kehamilan Chika sudah menginjak minggu ke-41 dan belum juga ada tanda-tanda kontraksi, rasa cemas pun mulai muncul.
Menurut hasil USG dokter kandungan kami, Dr. Azen Salim di RS Pondok Indah, prediksi kelahiran bayi adalah di sekitar tanggal 5-9 Juli 2015 atau pada saat kehamilan memasuki kurang lebih minggu ke-40. Dari beberapa bulan sebelumnya, dokter memang sudah bilang kalau dia akan cuti selama tiga minggu ke AS dan baru akan pulang di tanggal 5 Juli 2015. Maka dari itu kami selalu ajak ngobrol si baby yang masih dalam kandungan untuk lahirannya nungguin dokter Azen pulang. Hehehe...
Selama dokter Azen cuti, kami tetap kontrol ke dokter kandungan pengganti secara rutin. Karena memang kelahiran sudah menjelang, maka frekuensi kunjungan ke dokter jadi harus seminggu sekali. Dokter pengganti pertama yang kami pilih adalah Dr. Aswin. Dokter ini orangnya baik, ramah, dan sangat menjelaskan (Sebagai perbandingan, kalau Dr. Azen itu lebih buru-buru kalau menjelaskan, jadi kita mesti lebih proaktif bertanya).
"Demi bisa lahir secara normal, Chika mulai mengerahkan segala daya upaya dari mulai sering-sering sujud, jongkok, squatting, duduk di birthing ball, induksi alami (yeah, you know what I mean ;D), sampai yang paling ekstrim adalah saran dari Mama mertuaku yaitu minum minyak goreng biar proses persalinannya cepat"
Di minggu ke-38 itu, Dr. Aswin mendapati kalau posisi janin memang sudah bagus (kepala sudah di bawah), tapi memang belum masuk panggul atau jalur lahir. Makanya saat di USG, kita masih bisa melihat muka bayi dengan jelas. Selain itu Dr. Aswin juga mengatakan kalau bayi terlilit tali pusar walaupun tidak ketat. Perkembangan janin juga semuanya bagus, jadi masih ada harapan untuk lahir secara normal atau "Partus Per Vagina". Demi bisa lahir secara normal, Chika mulai mengerahkan segala daya upaya dari mulai sering-sering sujud, jongkok, squatting, duduk di birthing ball, induksi alami (yeah, you know what I mean ;D), sampai yang paling ekstrim adalah saran dari Mama mertuaku yaitu minum minyak goreng biar proses persalinannya cepat. ;D
Minggu berikutnya, karena satu dan lain hal, kita nggak kebagian jadwal dokter Aswin. Jadi kita kontrol sama dokter kandungan lain lagi, yaitu Dr. Fitriyadi. Pendapat pribadi saya mengenai dokter ini sih agak kurang positif ya. Selain karena kurang komunikatif, dokter ini juga cenderung pesimis untuk Chika bisa melahirkan secara normal. Well, namanya pilih dokter, apalagi dokter kandungan itu sebenernya semua balik lagi ke chemistry antara dokter sama pasien ya. Jadi pendapat pribadi saya ini mungkin tidak berlaku untuk pasien lainnya. Anyway, saat di USG oleh Dr. Fitriyadi, posisi bayi masih belum juga masuk jalur lahir. Tapi kami masih tetap positive thinking. Mungkin dedek bheubhi (panggilan sayang kami ke jabang bayi saat masih di dalam perut) memang mau tunggu Dr. Azen pulang dulu baru mau lahir. Salam afirmasi positif!
Dr. Azen Pulang
Tibalah di minggu ke-40, di mana kami sudah sangat siap menyambut kehadiran si dedek bheubhi. Bahkan Mama dan Papaku dari Semarang sudah mengantongi tiket pesawat ke Jakarta demi menemani Chika pada saat persalinannya. Namun tanda-tanda kontraksi atau mules juga tidak kunjung dirasakan oleh Chika. Maka saat dokter Azen sudah kembali dari cuti panjangnya dan mulai kembali praktik, kami kontrol kandungan lagi dengan dia pada hari Rabu tanggal 8 Juli 2015.
Saat di USG, dokter memeriksa kondisi plasenta dan air ketuban. Memang di minggu kehamilan yang semakin tua, plasenta akan mulai tidak bekerja secara optimal. Air ketuban juga bisa ada kemungkinan untuk mulai berkurang jumlahnya, dan bisa mulai keruh. Namun keduanya tidak terjadi. Semua masih dalam kondisi bagus. Jadi walaupun janin masih belum masuk jalur lahir pada minggu ini, dokter Azen menyarankan lebih baik untuk sabar menunggu saja. Dokter hanya menambahkan untuk Chika diminta melakukan CTG (rekam denyut jantung untuk janin) pada hari Minggu, 12 Juli 2015 yang kemudian hasilnya akan dibahas pada kontrol berikutnya di hari Senin, 13 Juli 2015.
"Mama Papaku yang sudah terlanjur punya tiket ke Jakarta tetap saja berangkat, dengan harapan mudah-mudahan baby sudah bisa lahir. Namun ternyata sampai mereka pulang kembali ke Semarang, tanda-tanda kontraksi belum juga ada"
Mama Papaku yang sudah terlanjur punya tiket ke Jakarta tetap saja berangkat, dengan harapan mudah-mudahan baby sudah bisa lahir. Namun ternyata sampai mereka pulang kembali ke Semarang, tanda-tanda kontraksi belum juga ada. Maklum karena sudah semakin dekat lebaran, makanya Mama Papa tidak bisa lama-lama berada di Jakarta ataupun mengubah jadwal kepulangan mereka. Pada titik ini aku dan Chika sudah mulai cemas kenapa baby kok belum mau lahir juga.
Kecemasan semakin memuncak saat sebagian teman-teman mulai banyak yang bertanya via Whatsapp apakah tanda-tanda kontraksi sudah muncul. Apalagi ada sebagian teman yang menyebutkan bahwa di usia kehamilan yang semakin tua, ada resiko janin keracunan air ketuban. Sebetulnya selama masih dalam pengawasan dokter, kami tidak perlu panik. Apalagi Dr. Azen sudah memeriksa air ketuban dalam kondisi baik dan cukup jumlah. Tapi sebagai insan manusia biasa, dan belum ada pengalaman kehamilan sebelumnya, tetap saja kami panik. Maka kami mulai memutuskan untuk melakukan persalinan secara Caesar saja, daripada semakin lama ada hal yang tidak kami inginkan terjadi.
CTG dan Keputusan untuk Sectio
Hari Minggu yang sangat ditunggu-tunggu tiba, yaitu melakukan CTG. CTG inilah yang kemudian akan dijadikan dasar pengambilan keputusan berikutnya. Hasilnya? Kondisi janin masih bagus, geraknya juga aktif, namun memang belum terjadi kontraksi sama sekali. Bidan di kamar bersalin RS Pondok Indah juga memeriksa kondisi mulut rahim dengan menggunakan jari, yang ternyata juga memang belum ada pembukaan. Bidan disana menyarankan untuk jangan terburu-buru mengambil keputusan operasi Caesar/ sectio, karena masih bisa diinduksi.
"Maka Dr. Azen memutuskan untuk melakukan operasi Caesar, mengingat tekanan darah Chika yang sudah semakin melambung karena stress"
Keesokan harinya, kami kembali bertemu dengan Dokter Azen. Saat di-USG, lagi-lagi posisi janin masih jauh dari jalur lahir. Jarak dari mulut rahim ke kepala bayi masih sekitar 3,5cm. Maka kalau diinduksi-pun akan percuma. Biasanya induksi itu dilakukan kalau jaraknya sudah dibawah 2cm. Itupun prosesnya bisa berlangsung selama berhari-hari. Wah, gak kebayang deh harus menahan rasa mules selama itu. Maka Dr. Azen memutuskan untuk melakukan operasi Caesar, mengingat tekanan darah Chika yang sudah semakin melambung karena stress. Maka malam itu juga Chika sudah mulai harus masuk ke Rumah Sakit, untuk persiapan keesokan paginya melakukan operasi caesar.
...dan Suara Tangis Bayi pun Terdengar
Setelah mandi, kemudian berganti baju operasi, sekitar jam setengah 8 pagi, Chika sudah mulai dipersiapkan untuk masuk ke kamar operasi. Keluarga juga sudah berdatangan untuk memberikan support kepada Chika. Aku, walaupun tidak sebesar yang dirasakan Chika, juga ada perasaan takut dan gentar menghadapi operasi ini. Dalam hati aku terus berdoa dan berdzikir, semoga Allah memberikan kelancaran persalinan dengan operasi caesar tersebut.
"Aku, walaupun tidak sebesar yang dirasakan Chika, juga ada perasaan takut dan gentar menghadapi operasi ini. Dalam hati aku terus berdoa dan berdzikir, semoga Allah memberikan kelancaran persalinan dengan operasi caesar tersebut"
Untungnya Dr. Azen memberikan izin untukku bisa menyaksikan proses persalinan dengan operasi caesar tersebut. Jadi aku sudah siap mental dan sudah berbekal kamera untuk mengabadikan detik-detik kelahiran si dedek bheubhi. Namun memang aku baru diperkenankan masuk ruang operasi setelah Chika sudah di-anestesi (bius) dan alat-alat sudah terpasang lengkap. Dan tentunya aku diminta untuk mengenakan pakaian khusus ruang operasi yang berwarna hijau itu, lengkap dengan tutup kepala dan masker. Saat aku masuk ruang operasi, bahkan dokter sudah mulai melakukan pembedahan. Aku menemani Chika di sisi dekat kepalanya, dimana aku juga sebetulnya tidak terlalu bisa melihat ke bagian perut yang dibedah, karena tertutup oleh tirai handuk.
Setelah kurang lebih 10 menit, Dr. Sander, dokter Anak yang sudah kami tunjuk sebelumnya, memanggilku untuk berdiri di sisi lainnya untuk menyaksikan proses Dr. Azen mengeluarkan bayi dari perut Chika. Saat inilah aku mulai menyalakan kamera untuk merekam proses kelahiran. Tak lama, aku melihat gerakan tangan Dr. Azen yang sedikit masuk ke dalam perut Chika... dan Suara tangis bayi pun terdengar ke seluruh ruangan. Alhamdulillah, si dedek bheubhi sudah lahir. Aku gak bisa berkata apa-apa, mata sedikit berkaca-kaca, dan dalam hati aku bilang, "Ya Allah, itu anakku..., si Hazel Alana Kayara Novandito".
Setelah tali pusar digunting, Baby Hazel kemudian diangkat oleh Dr. Sander, dan meletakkannya ke atas sebuah meja untuk memeriksa kondisi bayi serta kelengkapan organnya. Setelah itu dipantau juga detak jantung dan kadar oksigennya. Agak sedikit lama tuh nunggu kadar oksigennya naik, gara-gara dia malah asyik tidur. Memang sejak di perut, si baby jam tidurnya nocturnal.... Hehehe... Akhirnya setelah dicubit-cubit pelan pipinya dan digoyang-goyang baru deh dia bangun. Setelah semuanya dinyatakan normal barulah aku membacakan kalimat Isti'adzah ke telinga Hazel, "Audzubillah himinasyaitonirrajim", yang bermakna meminta perlindungan dan penjagaan kepada Allah dari kejahatan setan. Dan tentu tidak lupa mengumandangkan Adzan serta Iqomah.
"Namun memang resiko dari kelahiran dengan operasi caesar adalah IMD tidak bisa dilakukan terlalu lama, mengingat suhu ruang operasi yang sangat rendah"
Saat yang paling penting sesaat setelah bayi dilahirkan adalah melakukan IMD atau Inisiasi Menyusui Dini. Namun memang resiko dari kelahiran dengan operasi caesar adalah IMD ini tidak bisa dilakukan terlalu lama, mengingat suhu ruang operasi yang sangat rendah. Hal ini bisa menyebabkan bayi kehilangan suhu tubuhnya. Maka dari itu IMD disini tidak bisa benar-benar membuat bayi bergerak mencari sendiri puting ibunya, namun hanya bertujuan agar bayi bisa skin to skin dengan sang ibu, dan mengenali bau puting ibu yang konon aromanya sama dengan bau air ketuban.
Setelah proses kelahiran selesai, Chika masih harus tinggal di ruang operasi tersebut untuk dijahit. Dan dia akan diobservasi terlebih dahulu selama satu jam. Maka aku dipersilahkan keluar dari ruang operasi dan kembali berganti baju dengan baju biasa. Hazel kemudian dibawa ke kamar bayi dengan dimasukkan inkubator. Di luar ruang operasi, semua keluarga sudah dengan antusias, lega, dan penuh rasa syukur menyambut kehadiran Baby Hazel ke dunia, yang lahir pada hari Selasa, 14 Juli 2015, dengan berat 3485gr, serta panjang 50cm.





T-Shirt - Titanium Gr 5 (5 Piece) - T-Shirt
ReplyDeleteThe T-Shirt is a perfect fit for an elite size, size and shape m w88 to mens black titanium wedding bands impress and inspire citizen titanium watch your body type. T-Shirt - Titanium Gr 5 (5 Piece) Material: Polyester, Stainless Steel; Dimensions: 5 x 4 x micro touch hair trimmer 1 inches; Rating: 4.6 · 2 reviews · $35.00 · In stock titanium solvent trap monocore